PUSAKA MPA

Minangkabau

PUSAKA MPA

Urang Awak

PUSAKA MPA

Adat

PUSAKA MPA

Warisan

PUSAKA MPA

Sejarah

Showing posts with label pendhowolimo. Show all posts
Showing posts with label pendhowolimo. Show all posts

Tuesday, 7 December 2010

Saat Kematian Karna @ Pendhowo Limo

Karna @ Radheya  merupakan watak utama dalam epik Mahābhārata. Beliau merupakan Raja Anga dan dianggap sebagai kashtriya yang terunggul. Beliau adalah anak kepada Surya (Dewa Matahari) bersama Kunti, dan teman rapat kepada Duryodhana. Karna berperang di pihaknya ketika menentang Pandavas (adik-beradiknya sendiri) semasa Perang Kurukshetra. Karna merupakan individu yang menentang setiap perkara yang buruk dalam kehidupan dan berpegang teguh serta memahkotakan apa jua yang dijanjikan beliau.

Karna  adalah simbol pengorbanan dan pengorbanan adalah sinonim dengannya. Dipercayai tidak ada manusia lain yang dapat menandingi semangat pengorbanan yang dimiliki oleh Karna dalam apa jua keadaan. Walaupun ketika tewas dan dirinya menghampiri maut, semangat pengorbanan dan ‘sentiasa memberi’ Karna masih kekal: “Kegelapan mula menyelubungi di tapak medan pertempuran. Krishna mengikuti Arjuna dan dengan suara yang lembut Krishna memanggil ‘Karna ! Karna !’ Karna yang sedang menghadapi maut dengan nafas yang adqa menjawab “Siapa yang memanggil aku ? Aku di sini !”. Berpandukan arah datangnya suara yang lemah tadi Krishna mendekati Karna. Sebelum mendekati Karna, Krishna telah mengubah rupa bentuk asalnya menjadi seorang Brahmin (sami).  

Karna bertanya kepada Krishna “Siapakan tuan hamba ini ?” Walaupun sedang nazak, menghampiri nafasnya  yang terakhir ketika itu , Karna dengan suara yang jelas masih lagi mampu untuk bertanya kepada orang yang dianggap asing baginya.  Krishna (yang menyamar sebagai seorang Brahmin yang miskin) menjawab : “Sudah sekian lama kita mendengar mengenai reputasi tuan sebagai seorang yang pemurah dan dermawan hinggakan tuan diberi gelaran Daana Karna(Karna yang sentiasa memberi). Hari ini, tanpa mengetahui akan penderitaan tuan, kita datang untuk meminta sesuatu sumbangan dari tuan. Tuan mesti menunaikan hajat kita ini.” “Akan kita tunaikan hajat tuan, mintalah apa jua yang dikehendaki” Karna membalas.

Kita akan melangsungkan perkahwinan anak kita oleh itu kita memerlukan sejumlah  kecil emas sebagai perbelanjaan”  Krishna berkata. “Amatlah menyedihkan kerana keadaan kita tidak berkemampuan sekarang tetapi pergilah berjumpa dengan isteri kita, dia akan memberikan sebanyak mana emas yang tuan kehendaki” jawab Karna. Sami Brahmin itu ketawa sambil berkata “Untuk mendapat sejumlah kecil emas kita terpaksa berjalan ke Hastinapura? Sekiranya tuan tidak mampu untuk menunaikan hajat atau memberi apa yang kita minta, bukankah lebih baik kita tinggalkan sahaja tuan di sini ?” Dengan nada yang tinggi Karna bersumpah “Selagi nyawa kita ada, selagi kita bernafas sama sekali tidak akan kita berkta ‘tidak boleh atau ‘tidak’ kepada sesiapa pun!”. Lalu Karna membuka mulutnya, memperlihatkan emas yang membaluti gigi-gigi beliau dan berkata “Akan kita berikan kesemua salutan emas ini kepada tuan. Ambillah !”. Dengan nada yang tinggi seolah-olah merasa jijik dengan cadangan itu Krishna menjawab : “Apa yang tuan ingin cadangkan? Adakah tuan mengharapkan kita untuk memecahkan gigi-gigi tuan dan mengambil emas itu? Adakah tuan fikirkan kita tergamak melakukan sekejam itu. Kita adalah seorang Brahmin !

Setelah mendengar kata-kata sami itu, Karna terus mengambil batu besar yang berdekatan dan menghantuknya ke muka beliau, mematahkan gigi-gigi beliau. Karna mengambil gigi-giginya yang patah dan menyerahkan kepada sami Brahmin tersebut. Krishna yang menyamar sebagai sami Brahmin tadi cuba menguji ketabahan Karna dan berkata : “Apa ? Adakah tuan ingin memberi kita hadiah yang berlumuran dengan darah ? Kita tidak boleh terima penghinaan seperti ini. Lebih baik kita beredar dari sini !” Mendengar rungutan Brahmin tadi, Karna merayu “Swami, tolonglah..tunggu sebentar “ Walaupun cedera teruk akibat panahan dari Arjuna dan dengan kesukaran untuk bergerak, Karna mengambil anak panahnya dan menghalakannya ke langit. Dilepaskan anak panah itu ke atas. Sejurus kemudian hujan turun dengan lebatnya, membasahi bumi. Karna mengambil gigi-giginya tadi dan membersihkannya dengan air hujan, dan dengan kedua belah tangan, menghulurkannya kepada sami Brahmin itu.

Krishna berasa sungguh terharu lalu memperlihatkan dirinya yang sebenar. Terkejut sambil Karna bertanya : “Siapakah sebenarnya tuan ?”. Krishna menjawab : “Kita adalah Krishna. Kita amat kagum dengan semangat berkorban tuan. Tidak kira dalam apa juga keadaan, tuan sama sekali tidak lupa atau mengabaikan semangat untuk sentiasa memberi kepada yang meminta. Pohonlah apa juga yang tuan inginkan !” Setelah memperlihatkan diri Krishna yang sebenar, Karna terus berdoa “Wahai Krishna ! Aaapadbandhava! (Yang Mengurangkan segala Kesengsaraan !) Lokarakshaka! (Yang Melindungi Dunia !). Oh Dewa, yang memegang dunia di bawah tapak tangannya, apa yang boleh kita mohon dari engkau ? Ketika ini di saat aku menghadapi ajalku, aku ingin menutup mataku dengan melihat wajah dan diri engkau yang sebenar. Inilah rahmat yang terbesar bagiku dan cukup bagiku sebelum diri ini meninggalkan jasad ini yang merupakan matlamat utama kewujudan manusia. Engkau telah datang dan menghampiri serta merahmati jasad ini dengan kehadiran engkau sendiri. Cukuplah rahmat yang engkau berikan dan aku hanya mampu menyerahkan tanda hormatku kepada engkau…”.


Sunday, 5 December 2010

Pendhowo Limo - Ringkasan

Pandawa lima yang terdiri atas Yudistira, Arjuna, Bima, Nakula dan Sadewa. Saudara yang paling tua adalah Karna.

Karna (Sanskerta: कर्ण; Karnna) adalah nama raja Angga yang merupakan tokoh antagonis penting dalam wiracarita Mahabharata. Ia menjadi pendukung utama pihak Korawa dalam perang besar melawan Pandawa. Padahal sesungguhnya, Karna merupakan kakak tertua dari tiga di antara lima Pandawa (Yudistira, Bimasena, dan Arjuna). Dalam bagian akhir perang besar tersebut, Karna diangkat sebagai panglima pihak Korawa, di mana ia akhirnya gugur di tangan Arjuna. Karna merupakan sosok pahlawan yang memiliki sifat-sifat kompleks. Meskipun berada di pihak antagonis, namun ia terkenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kesatria. Sifatnya angkuh, sombong, suka membanggakan diri, namun juga seorang dermawan yang murah hati kepada siapa saja, terutama fakir miskin dan kaum brahmana. Kesaktiannya yang luar biasa membuat namanya terkenal sepanjang masa dan disebut dengan penuh penghormatan.

Yudistira merupakan saudara para Pandawa yang paling tua. Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Yama dan lahir dari Kunti. Sifatnya sangat bijaksana, tidak memiliki musuh, dan hampir tak pernah berdusta seumur hidupnya. Memiliki moral yang sangat tinggi dan suka mema’afkan serta suka mengampuni musuh yang sudah menyerah. Memiliki julukan Dhramasuta (putera Dharma), Ajathasatru (yang tidak memiliki musuh), dan BhārataMaharaja Bharata). Ia menjadi seorang Maharaja dunia setelah perang akbar di Kurukshetra berakhir dan mengadakan upacara Aswamedha demi menyatukan kerajaan-kerajaan India Kuno agar berada di bawah pengaruhnya. Setelah pensiun, ia melakukan perjalanan suci ke gunung Himalaya bersama dengan saudara-saudaranya yang lain sebagai tujuan akhir kehidupan mereka. Setelah menempuh perjalanan panjang, ia mendapatkan surga. 


Bima merupakan putra kedua Kunti dengan Pandu. Nama bhimā dalam bahasa SansekertaBayu sehingga memiliki nama julukan Bayusutha. Bima sangat kuat, lengannya panjang, tubuhnya tinggi, dan berwajah paling sangar di antara saudara-saudaranya. Meskipun demikian, ia memiliki hati yang baik. Pandai memainkan senjata gada. Senjata gadanya bernama Rujakpala dan pandai memasak. Bima juga gemar makan sehingga dijuluki Werkodara. Kemahirannya dalam berperang sangat dibutuhkan oleh para Pandawa agar mereka mampu memperoleh kemenangan dalam pertempuran akbar di Kurukshetra. Ia memiliki seorang putera dari ras rakshasa bernama Gatotkaca, turut serta membantu ayahnya berperang, namun gugur. Akhirnya Bima memenangkan peperangan dan menyerahkan tahta kepada kakaknya, Yudistira. Menjelang akhir hidupnya, ia melakukan perjalanan suci bersama para Pandawa ke gunung Himalaya. Di sana ia meninggal dan mendapatkan surga. Dalam pewayangan Jawa, dua putranya yang lain selain Gatotkaca ialah Antareja dan Antasena.


Arjuna merupakan putra bungsu Kunti dengan Pandu. Namanya (dalam bahasa Sansekerta) memiliki arti "yang bersinar", "yang bercahaya". Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Indra, Sang Dewa perang. Arjuna memiliki kemahiran dalam ilmu memanah dan dianggap sebagai ksatria terbaik oleh Drona. Kemahirannnya dalam ilmu peperangan menjadikannya sebagai tumpuan para Pandawa agar mampu memperoleh kemenangan saat pertempuran akbar di Kurukshetra. Arjuna memiliki banyak nama panggilan, seperti misalnya Dhananjaya (perebut kekayaan – karena ia berhasil mengumpulkan upeti saat upacara Rajasuya yang diselenggarakan Yudistira); Kirti (yang bermahkota indah – karena ia diberi mahkota indah oleh Dewa Indra saat berada di surga); Partha (putera Kunti – karena ia merupakan putra Perta alias Kunti). Dalam pertempuran di Kurukshetra, ia berhasil memperoleh kemenangan dan Yudistira diangkat menjadi raja. Setelah Yudistira mangkat, ia melakukan perjalanan suci ke gunung Himalaya bersama para Pandawa dan melepaskan segala kehidupan duniawai. Di sana ia meninggal dalam perjalanan dan mencapai surga.

Nakula merupakan salah satu putera kembar pasangan Madri dan Pandu. Ia merupakan penjelmaan Dewa kembar bernama Aswin, Sang Dewa pengobatan. Saudara kembarnya bernama Sadewa, yang lebih kecil darinya, dan merupakan penjelmaan Dewa Aswin juga. Setelah kedua orangtuanya meninggal, ia bersama adiknya diasuh oleh Kunti, istri Pandupedang. Dropadi berkata bahwa Nakula merupakan pria yang paling tampan di dunia dan merupakan seorang ksatria berpedang yang tangguh. Ia giat bekerja dan senang melayani kakak-kakaknya. Dalam masa pengasingan di hutan, Nakula dan tiga Pandawa yang lainnya sempat meninggal karena minum racun, namun ia hidup kembali atas permohonan Yudistira. Dalam penyamaran di Kerajaan Matsya yang dipimpin oleh Raja Wirata, ia berperan sebagai pengasuh kuda. Menjelang akhir hidupnya, ia mengikuti pejalanan suci ke gunung Himalaya bersama kakak-kakaknya. Di sana ia meninggal dalam perjalanan dan arwahnya mencapai surga.


Sadewa merupakan salah satu putera kembar pasangan Madri dan Pandu. Ia merupakan penjelmaan Dewa kembar bernama Aswin, Sang Dewa pengobatan. Saudara kembarnya bernama Nakula, yang lebih besar darinya, dan merupakan penjelmaan Dewa Aswin juga. Setelah kedua orangtuanya meninggal, ia bersama kakaknya diasuh oleh Kunti, istri Panduastronomi. Yudistira pernah berkata bahwa Sadewa merupakan pria yang bijaksana, setara dengan Brihaspati, guru para Dewa. Ia giat bekerja dan senang melayani kakak-kakaknya. Dalam penyamaran di Kerajaan MatsyaWirata, ia berperan sebagai pengembala sapi. Menjelang akhir hidupnya, ia mengikuti pejalanan suci ke gunung Himalaya bersama kakak-kakaknya. Di sana ia meninggal dalam perjalanan dan arwahnya mencapai surga.


Petikan : http://id.wikipedia.org/wiki/Pandawa