PUSAKA MPA

Minangkabau

PUSAKA MPA

Urang Awak

PUSAKA MPA

Adat

PUSAKA MPA

Warisan

PUSAKA MPA

Sejarah

Showing posts with label alambarzakh. Show all posts
Showing posts with label alambarzakh. Show all posts

Tuesday, 17 November 2009

Memilih Teman Perjalanan ke Alam Barzakh

Seperti anda ketahui, di dalam hidup ini, Islam menawarkan dua pilihan, iaitu jalan menuju Allah Swt,  dan jalan menuju syaitan. Kita disuruh memilih, jalan mana yang kita kehendaki. Al Qur'an sendiri menegur kita ;'Fa ayna tadzhabun?' (Hendak pergi kemana kalian ini ?) QS.81:26.

Pertanyaan ini merupakan peringatan buat semua orang. Tetapi Nabi Ibrahim menjawab pertanyaan tsb dan Ibrahim berkata: 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadak'. (QS. 37:99). Dalam ayat lain dikatakan : 'Dan Kami telah menunjukkan kepadanya (manusia) dua jalan'. (QS. 90:10) iaitu jalan menuju Allah Swt dan jalan menuju selain Allah Swt.

Bahkan sering kali kita temukan di dalam Al Qur'an ungkapan yang menganjurkan agar kita berjalan mengikuti orang-orang yang berjalan menuju Tuhan...'dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan'. (QS. 31:15)

Dunia utama yang harus dia tinggalkan adalah dirinya sendiri.

Dari ayat 'Barang siapa yang keluar dari rumahnya (QS. 4:100), dalam dua makna; makna batin dan makna lahir. Makna  lahir dari ayat ini, berkenaan dengan para sahabat Nabi Saw yang meninggalkan rumahnya di Makkah menuju Madinah. Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa ayat itu berkenaan dengan orang tua yang sakit, yang ikut hijrah kemudian mati di perjalanan. Pada waktu itu, ketika sahabat lain sudah hijrah dia masih tinggal di Makkah. Kemudian turun ayat yang menegur orang yang tinggal di Makkah dan tidak mahu hijrah. Dan kalau mereka mati, malaikat akan mengecam mereka yang tidak mahu berhijrah.

Al Qur'an Al Karim mengatakan : 'Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya:"Dalam keadaan bagaimana kamu ini'. Mereka menjawab:'Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)'. Para malaikat berkata:'Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah dibumi itu. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruknya tempat kembali'(QS. 4:97),... Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah)' (QS. 4:98)

Orang sakit dan tua ini mengatakan, 'Saya ini tidak termasuk orang yang dikecualikan dalam ayat ini kerana saya mempunyai bekal dan saya punya orang yang tahu jalan, hanya saja saya sakit. Oleh karena itu, angkutlah saya, bawa saya berhijrah' Kemudian oleh keluarganya, ia dibawa ke Madinah.  Sampai kemudian di suatu tempat yang bernawa Tawin, orang itu meninggal dunia. Kemudian turun ayat '......Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya disisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'(QS. 4:100). Itulah makna lahir dari ayat ini.

Seperti yang pernah disebutkan dalam hadis Nabi, 'Barang siapa yang meniti (salaka) jalan menuntut ilmu, maka dia berada di jalan Allah'. Ada sebuah nasihat yang dapat kita ambil dari seoarang ulama, dan sufi besar pendiri sebuah tarekat, bernama Syaikh Najmuddin Al Kubra. Ia mempunyai banyak murid yang kelak menjadi para wali. Beliau memberikan beberapa bentuk jalan kehidupan, ketika dia sendiri sedang meniti jalan menuju Allah Swt. Beliau mengatakan, 'Ada dua macam perjalanan manusia.  Pertama  perjalanan itu ialah perjalanan yang terpaksa, yang disebut safar qahri.  Dan yang kedua, ialah perjalanan yang merupakan pilihan kita, atau safar ikhtiyari."

Ertinya, ada perjalanan kita semua yang menuju Allah Swt tetapi dalam keadaan terpaksa,ada pula perjalanan kita yang menuju  Allah dalam keadaan sukarela. Al Qu'ran Al Karim menyebut 'Sesungguhnya kita semua adalah kepunyaan Allah, dan semua akan kembali kepadaNYA' dan 'Kepada Akulah semua akan kembali' dan itulah perjalanan yang tidak sukarela. Ertinya perjalanan yang tidak sukarela itu sendiri memiliki beberapa 'perhentian' iaitu ketika  :

*    kita berada pada sulbi ayah kita.
*    kita berada pada rahim   ibu.
*    kita dilahirkan ke dunia ini dan
*    alam kubur, yang menurut agama, alam itu menjadi taman dari taman-taman surga, atau menjadi sumur-sumur neraka, bergantung kepada amal perbuatan kita di dunia ini.

Pada alam barzakh ini kita belum masuk surga atau neraka tetapi kita sudah berada dalam bayang-bayang keduanya. Sedangkan tahap kelima, ialah saat kebangkitan yang menurut Syaikh Najmuddin Al Kubra, usianya sama dengan (lebih kurang) 5.000 tahun usia dunia ini. Itulah hari kebangkitan, ketika semua manusia dibangkitkan dari tidurnya yang panjang.

Menurut orang-orang sufi, kita semua tidak ingat lagi alam yang sebelum ini alam rahim, misalnya. Semua yang berada di alam rahim mempengaruhi tingkah laku kita sekarang ini; tetapi kita seakan-akan tidak mengalami dunia itu. Kita seakan-akan lahir ke dunia ini, kemudian kita menemukan alam kesadaran baru. Begitu pula, ketika kita berada di alam barzakh, kita mulai sedar bahwa di alam inilah sebetulnya kehidupan yang sebenarnya itu. Kehidupan dunia ini bagaikan sebuah mimpi saja.  Suasana seperti baru kita sedari di alam barzakh itu. Allah Swt berfirman : 'Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam'(QS. 50:22).

Kita merasakan alam barzakh itu sebagai permulaan kehidupan. Apa yang kita lakukan sekarang ini mempengaruhi suasana senang dan susah di alam barzakh nanti. Ketika kita nanti dibangkitkan, kita merasa bahwa alam barzakh itu seperti mimpi yang panjang. Semua orang merasakan bahwa memang itulah kehidupan yang sebenarnya. Al Qur'an Al Karim melukiskan peristiwa itu dalam surah Yasin sbb : '.....Mereka berkata:"Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?" Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul Rasul(Nya)'(QS. 36:52).

Itulah alam kebangkitan yang panjangnya kira-kira sama dengan hitungan 5.000 tahun dunia ini. Hanya Allah Yang Maha Tahu, karena perhitungan panjang-pendeknya waktu itu sangat relatif, apalagi ketika menghadapi alam lain. Kita sangat susah menghitung berapa lama waktu itu. Sayyidina Ali k.w. pernah meriwayatkan bahwa begitu seseorang meninggal dunia, jenazahnya terbujur, diadakan 'upacara perpisahan' di alam ruh. Pertama ruh dihadapkan kepada seluruh kekayaannya yang dia miliki.

Kemudian terjadi dialog antara keduanya. Mayat itu mengatakan kepada seluruh kekayaannya, 'Dahulu aku bekerja keras untuk mengumpulkan kamu itu sehingga akau lupa untuk mengabdi kepada Allah Swt., sampai aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Sekarang, apa yang akan kamu berikan sebagai bekal dalam perjalananku ini'. Lalu harta kekayaan itu berkata, 'Ambillah dariku itu kain kafanmu'. Jadi tinggal kain kafanlah yang dibawa untuk bekal perjalanan selanjutnya.

Sesudah itu si mayat dihadapkan kepada seluruh keluarganya; anak-anaknya, suami atau istrinya - kemudian si mayat berkata, 'Dahulu akau mencintai kamu, menjaga dan merawat kamu. Begitu susah payah aku mengurus dirimu, sampai aku lupa mengurus diriku sendiri. Sekarang apa yang mau kalian bekalkan kepadaku pada perjalananku selanjutnya?'. Kemudian keluarganya mengatakan, 'Aku antarkan kamu sampai ke kuburan'.

Setelah perpisahan itu, si mayat akan dijemput oleh makhluk jelmaan amalnya.  Kalau orang yang meninggal ini adalah orang yang sering berbuat baik, beramal saleh, maka dia akan dijemput oleh makhluk yang berwajah ceria,  yang memandangnya menimbulkan kenikmatan, dan memancarkan aroma semerbak. Makhluk jelmaan itu kemudian mengajak si mayat pergi. Kemudian mayat itu berkata : 'Siapakah enkau ini sebenarnya ? Saya tidak kenal dengan engkau'. Makhluk itu kemudian menjawab: 'Akulah amal saleh kamu dan aku akan mengantarkan  kamu sampai hari perhitungan (hisab) nanti.

Bahawa amal-amal kita nanti akan berwujud, misalnya, sedekah yang sekarang ini tidak kita lihat wujudnya. Kita  hanya mengenalnya sekarang ini sebagai sesuatu yang abstrak. Pekerjaan orang tersebut boleh kita lihat tapi wujudnya tidak dapat kita lihat. Yang menarik adalah bahawa amal saleh yang kita kerjakan akan selalu setia menemani kita sampai alam barzakh. Tetapi amal yang buruk juga akan berwujud. Dia akan berwujud wajah yang menakutkan, dengan bau yang menyengat seperti bangkai, dan ia akan terus menemani kita sampai hari hisab nanti. Kemudian ketika amal buruk itu ditanya, 'Siapakah engkau ini sebenarnya?'. Maka dia menjawab, 'Aku adalah amal kamu yang jelek. Dan aku akan menemani kamu sejak alam barzakh sampai kebangkitan nanti'.

Bayangkan perjalanan panjang yang ditemani makhluk yang mengerikan dan baunya bahkan melebihi bau bangkai. Padahal kalau kita lihat hadis-hadis Nabi, sedihnya seorang mayat ketika hendak meninggalkan keluarganya melebihi kesedihan seseorang yang harus meninggalkan keluarganya secara tiba-tiba, misalnya ketika menunaikan ibadah haji. Sang mayat pun akan berpisah dengan seluruh keluarganya bahkan dengan seluruh dunia ini yang pernah dihuninya setelah sekian lama.
Setelah berpisah, dia akan hidup sendiri, dilanda kesepian yang luar biasa.  Kerana itu beruntunglah kalau dalam kesepian itu ia ditemani oleh teman-teman yang baik.

Itulah perjalanan sama ada mahu atau tidak akan lalui. Sesudah perjalanan itu kita memasuki tempat tinggal yang abadi. Tempat itu akan merupakan kesenangan yang abadi, iaitu syurga; tetapi tempat abadi itu juga boleh menjadi neraka yang mengerikan. Selain perjalanan yang terpaksa (safar qahri), ada pula safar ikhtiyari, iaitu perjalanan yang merupakan pilihan kita. Kita boleh memilih berjalan atau tidak memilih berjalan. Perjalanan Ikhtiyari ini sendiri terbahagi menjadi dua : pertama, perjalanan ruhani, atau perjalanan jiwa kita menuju Allah Swt. Dan itulah yang disebut As-Suluk ila Malikil Muluk (perjalanan menuju Raja Segala Raja). D
alam perjalanan ini kita akan menempuhi beberapa peringkat sama seperti kita akan menempuhi beberapa tahap pada perjalanan qahri tadi. Kedua, ialah perjalan fisik iaitu pindahnya kita dari suatu kota ke kota lain.

Oleh itu, dalam ibadah haji itu ada unsur-unsur safar yang dilambangkan dengan meninggalkan dunia menuju Rumah Allah, yaitu Baytullah.Tetapi haji itu juga mengandung safar ruhani. Jadi, ibadah haji memiliki dua safar sekaligus. Dalam shalat, kita hanya mempunyai satu safar, yaitu safar ruhani dan tidak safar jasmani.

Dipetik 'Renungan Renungan Sufistik' oleh Prof. Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat.

Amal-amal kita di Alam Barzakh

Ath-Thbrani dalam Al-Jami’ al-Kabir menuturkan riwayat dari Abdurahman bin Samrah, bahwa Rasulullah suatu hari bersabda:

“Tadi malam aku bermimpi melihat seseorng dari kalangan umatku didatangi Malaikat Maut yang akan mencabut nyawanya. Lalu datang amal kebaikan yang dikerjakannya kepada kedua orang tuanya menghalangi malaikat maut.

Aku juga melihat salah seorang dari umatku yang dibentangkan baginya azab kubur, lalu datang wudhunya menyelamatkannya dari azab tersebut.

Aku melihat seseorang dari umatku yang dikelilingi setan, lalu datang dzikrullah yang pernah dilakukannya dan berhasil menyelamatkannya dari kepungan setan-setan tersebut.

Aku melihat seseorang dari umatku yang dikelilingi oleh para malaikat pemberi siksaan, lalu shalatnya datang dan menyelamatkan dari para malaikat itu.

Aku melihat seseorang dari umatku yang mengeluarkan lidahnya karena kehausan. Setiap kali ada kolam, dia dilarang mendekatinya, lalu puasa yang pernah dikerjakannya mendatanginya dan memberikan minuman kepadanya.

Aku melihat seseorang dari umatku, sedangkan para Nabi duduk berkeliling. Setiap dia mendekati garis lingkaran para Nabi itu mereka mengusirnya, lalu mandi janabah yang pernah dilakukanya mendatanginya untuk menyelamatkannya dan duduk di sampingnya.

Kemudian aku melihat seseorang dari umatku yang di hadapan dan di belakangnya terdapat kegelapan, sedangkan dia sendiri bingung akan berbuat apa. Lalu haji dan umrahnya mendatanginya untuk menyelamatkannya menyelamatkannya, sehingga keduanya mengeluarkannya dari kegelapan itu dan memasukkannya ke dalam cahaya.

Aku melihat seseorang dari umatku yang mengajak orang-orang mukmin untuk berbicara, tetapi mereka sama sekali tidak mengajaknya berbicara. Lalu silaturahminya datang seraya berucap, ‘Wahai sekalian orang-orang mukmin, ajaklah dia berbicara.’

Selain itu, Aku melihat seseorang dari umatku yang berusaha menghalangi kobaran dan panas api dari wajahnya dengan tangannya, lalu sedekah yang pernah dilakukannya mendatanginya dan menjadi penghalang wajahnya sekaligus sebagai tempat bernaung kepalanya.

Aku melihat seseorang dari umatku yang diserang oleh malaikat Zabaniyyah dari segala arah, lalu amar ma’ruf nahi munkar yang pernah dikerjakannya mendatangi dan menyelamatkannya, dan kemudian dia diserahkan kepada malaikat Pemberi rahmat.

Aku melihat seseorang dari umatku yang duduk di atas kedua lututnya yang di antara dirinya dan Allah terdapat hijab/batas lalu kemuliaan akhlak yang dimilikinya mendatanginya dan membawanya menghadap Allah.

Selanjutnya aku melihat seseorang dari umatku yang mendapat pemberian buku catatan amalnya dari sebelah kirinya, lalu ketakwaannya kepada Allah mendatanginya dan mengambil catatan itu serta menyerahkannya dari sebelah kanannya.

Kemudian aku melihat seseorang dari umatku yang timbangannya sangat ringan, lalu
anak-anaknya yang meninggal pada waktu masih kecil datang dan memberatkan timbangannya tersebut.

Aku melihat seseorang dari umatku berdiri di tepi neraka jahanam, lalu datang rasa takutnya kepada Allah dan kemudian menyelamatkannya.

Aku melihat seseorang dari umatku yang berkeinginan keras masuk neraka, lalu datang air matanya yang pernah keluar dari rasa takut kepada Allah semasa hidupnya dan menyelamatkan dari neraka.

Aku melihat seseorang dari umatku yang berdiri di atas shirath yang bergoyang seperti goyangnya pelepah korma, lalu datang prasangka-baiknya kepada Allah yang kemudian menenangkan goyangan tersebut sehingga dia mampu menyeberanginya

Aku melihat seseorang dari umatku yang berada di atas shirath sambil merangkak sedikit demi sedikit, lalu shalawat yang ditujukannya kepadaku mendatanginya dan kemudian membantunya berdiri hingga akhirnya berhasil menyeberanginya.

Aku melihat seseorang dari umatku yang sampai di depan syurga, tetapi pintu-pintunya tertutup baginya, lalu datang kesaksiannya bahwa tiada Tuhan selain Allah, kemudian membukakan pintu-pintu syurga untuknya dan memasukkannya ke sorga.

Aku melihat beberapa orang yang lidahnya dipotong, lalu kutanyakan, ‘Ya Jibril, siapakah mereka?’ Jibril menjawab,’Mereka itu adalah orang-orang suka mengadu-domba manusia.’

Selanjutnya aku melihat beberapa orang yang digantung pada lidah mereka, lalu aku bertanya,’Ya Jibril, siapakah mereka?’ Jibril menjawab,’Mereka adalah orang-orang yang menuduh orang-orang mukmin melakukan apa tidak mereka lakukan.’

Al-Qurthubi mengatakan, “Ini merupakan hadits yang sangat agung, yang disebutkan di dalamnya berbagai amalan khusus yang dapat menyelamatkan manusia dari hal-hal yang mengerikan.”

petikan : http://serambitashawwuf.blogsome.com